Thursday, December 19, 2019

Ceramah Heroik Mas Ahmad Dimyati

#sangsupersekali, kali ini menurunkan tulisan yang cukup rangkuman singkat dari ceramah KH Mas Ahmad Dimyati yang merupakan salah satu tokoh Muhamadiyah Solo di Masjid Al Huda Nirbitan Solo dalam pengajian rutin malam jumat habis magrib. Dengan mengutip QS Al Hasyr ayat : 18, beliau akirnya memaparkan beberapa kejadian dalam sejarah penting saat saat menjelang kemerdekaan RI yang perlu diketahui generasi milenial serta mengingatkan kepada yang sudah memasuki usia senja. Dengan memasuki usia kepala 8, tentu pengalamannya baik saat masih sekolah dasar, hingga pemuda cukup menjadi bukti empiris yang mahal, bahwa ummat islam perannya dalam semangat mengusir penjajah baik Belanda, Jepang dan sekutu tak bisa dilupakan begitu saja.



Ada beberapa nama yang beliau sebut dan mereka perannya cukup besar diantaranya : Ki Bagus Hadikusumo, Prof Kahar Mudzakar (rektor I UII Jogjakarta, Kasman singodimejo serta panglima besar jendral Soedirman yang sering lolos dalam pengejaran dan ppenyergapan Belanda. Hal hal yang berkaitan dengan sejarah menuju kemerdekaan, mungkin sudah banyak dituliskan dalam buku sejarah perjuangan indonesia. Dilihat dari materi pengajiannya, memang masih didominasi beberapa kalangan seperti tokoh tokoh Muhamadiyah. Kami tambahkan bahwa ada peristiwa penting juga setelah kemerdekaan yakni dikeluarkannya resolusi jihad oleh pendiri NU yakni Hadratus Syeh Hasyim Asy'ari pasca kemerdekaan RI yang kenyataannya tearasa belum merdeka betul. Merdeka secara tulisan, namun realitas berkata lain. Dengan resolusi ini, memang jadi senjata pamungkas para santri seantero nusantara untuk bangkit melawan penjajah baru  (Inggris) saat itu. Sehingga perjuangan kaum santri serta dukungan umat islam cukup luar biasa terutama di tanah Jawa. Perjuangan menjelang kemerdekaan dan sesudahnya  adalah dalam rangka meneruskan pilar pilar yang sudah diterbitkan Ulama dan Kyai pendahulunya. Lengkap sudah perjuangan yang dimotori oleh ormas besar yang hingga sekarang tampak nyata hasil hasil dan bisa disaksikan dengan kasat mata. Resolusi Jihad ini bisa anda  simak disini.

Di kalangan Al Islam, pernah terjadi sejarah besar yakni kongres umat Islam di Solo yang diikuti berbagai ormas besar serta dihadiri tokoh tokoh nasional saat itu, kualitas konggres sebanding dengan resolusi jihad yang diterbitkan beberapa watu setelah proklamasi 1945 karena ada agresi Inggris (ada dalam buku sejarah perjuangan Al islam). Maaf buku ini ada di yayasan Al islam, edisi cukup tebal dan yang menyusunnya cukup sabar dalam merajut sumber, silaturahim dengan tokoh yang masih hidup. Semoga menjadi jariyah tersendiri dan bisa dinikmati para siswa siswi lingkup perguruan Al islam. Buku kami sempat dipinjam alm.Salimi, namun hingga kini masih dalam pencarian oleh mendiang istrinya. Ada Konggres yang dihadiri NU, Muhamadiyah, Persis, Al Irsyad, dll. Hadir sebagai pimpinan sidang : alm KH Ghozali Bin Hasan Ustadz serta sekjennya alm KH Abdussomad Nirbitan yang keduanya dari Al islam dengan dibantu dengan beberapa perintis pemula Al islam, sebut saja : alm KH Abdul Rozaq (Gumuk) ayahanda almukarrom KH Mudzakir, serta alm KH As'ad yang merupakan donatur utama Al Islam. 

Ternyata Al Islam juga pernah berperan mengisi waktu demi waktu menjelang kemerdekaan RI yang finalnya pada tanggal 17-8-1945. Memang tak sebesar NU dan Muhamadiyah, akan tetapi alm KH Ghozali Al Islam merupakan sosok yang disegani berbagai kalangan, karena beliau termasuk ahli hadist yang cukup teliti dan tekun jika sedang menyusun sebuah tulisan. Lihat Tijan, karya beliau meski edisi cetakannya tipis namun cukup berbobot dengan rujukannya yang lengkap. Ini tambahan dan catatan kami sendiri, diluar materi pengajian. Bersama Prof. Sarjito, beliau mempelopori berdirinya RS Sardjito saat masih menimba ilmu di Jogja.

Meski usia KH Mas Ahmad Dimyati sudah masuk bonus ke-2 atau kepala-8, penyampaiannya cukup jelas dan padat. Kisah yang cukup jadi perenungan adalah tentang Ki Bagus Hadikusumo. Saat penjajahan jepang, sekolah dan madrasah diwajibkan tiap pagi menghadap ke timur, menyerupai agama shinto yang mengagungkan matahari. Para Ulama dan Kyai merasa keberatan dengan keputusan pemerintah Jepang saat itu (Dai Nippon). Akhirnya Ki Bagus hadikusumo memberanikan diri untuk menghadap Dai Nippon di Jogja dengan gaya merunduk serta bergaya tawadhu'. Diskusi berlangsung dan Dai Nippon mengancam akan ambil tindakan jika upacara tiap pagi dilanggar. Ki Bagus Hadukusumo sempat keder, dan minder saat masuk ruangan kerja Dai Nippon. Pertanyaan Dai Nippon dijawab diplomatis oleh Ki Bagus dengan balik bertanya

Bagaimana agama tuan yang shinto itu bila dilanggar ? Marahkan tuan tuan ?.

Ternyata soal ini membuat dai Nippon bertekuk lutut, dan akhirnya Ki bagus Hadikusumo yang awalnya sempat keder mungkin ada tendangan dari Dai Nippon akhirnya diajak minum teh bersama dan suasana menjadi hangat serta akrab. Akhirnya keputusan untuk menghadap ke timur serta merunduk tiap pagi, tak usah lagi dilaksanakan tanpa takut ada sangsi dari pemerintahan Jepang. Perlu diketahu, pemerintahan saat itu menempati gedoeng agoeng di Jogjakarta yang merupakan istana negara resmi yang dimiliki Indonesia. Mungkin inilah diantara keistimewaan Jogjakarta hingga saat ini yang memang pantas disandang demikian. Sebagai penutup, narasumber pengajian malam jumat meminta agar sejarah umat islam berperan dalam memperjuangkan kemerdekaannya selalu diingat, karena akhir akhir ini umat islam dimana mana mengalami perlakuan tak adil dari rezim dimanapun negara itu berada. Kecuali memang ada beberapa negara juga masih menjadikan sokoguru dalam kelola wilayahnya.

File rekaman format audio (*.mp3) adalah  : (klik berikut) dan siapkan earphone biar clear dan jelas









Tuesday, December 17, 2019

Haul Ke 108 Habib Ali Di Solo Dan Ekonomi Lokal Yang Terdongkrak

Haul ke 108 tahun Al Habib Ali Al Habsy di Solo masih berlangsung hari ini. Meski belum acara puncak yang masih menunggu esok hari (Rabu 18 Desember 2019, 21 Robi'ul Akhir 1441 H). Bila dikurangi dengan kelahiran Habib Ali alm yakni 1259, berarti (1441 - 1259 ) = 182 tahun, dengan haul yang 108, berarti beliau wafat dalam usia sekitar (182-108) = 74 tahun yang makamnya di Hadramaut (Yaman). Baru kali ini ada atensi atau perhatian dengan acara haul yang sudah rutin di kawasan Pasar Kliwon Solo (kawasan kampung komunitas Arab) yang sudah lama sejak alm Habib Alwi (putra Habib Ali) menginjakkan kakinya di Solo untuk masuk kancah dunia dakwah serta bergabung dengan Al Irsyad saat itu. Nama Al Irsyad tak akan lepas dari nama sebuah radio dakwah bernama radio ABC Surakarta. Sebuah media pernah bahas Manakib Habib Ali.



Dulu era 80-90 an para mubaligh Solo ditampung di radio itu dan hadir nama nama yang beken seperti : alm. Hasan Basri, alm Abdullah Sungkar, alm. Thoyib Mangkupranoto, alm Slamet Iskandar, alm Bakri Royani, alm Abdul Rouf, Abdul Rouf ini barangkali mirip KH Anwar Zahid saat ini yang pengajiannya selalu membuat kocak para pemirsanya baik online maupun offline, serta yang masih ada : ust Abu Bakar Ba'asyir yang memang terkenal vokal sejak orde baru Soeharto. Tentang peran keluarga Habib Alwi alm, kami mendengar justru dari radio Salafy yang mengudara tak tentu di tengah malam. Meski radio salafy sang narasumber mengkritisi cara muamalah munakahat (pernikahan) keluarga besar alm Habib Alwi (ayahnya alm Habib Anis yang wafat 2006) yakni menikahkan keluarga besarnya kepada sesama keluarga habaib saja. Namun jika untuk kepentingan penjagaan aqidah saat ini, memang itu hak dan ijtihad yang tak terbantahkan. Terlebih lagi masuk zaman fitnah akhir akahir ini, yang mana belum lama ada ceramah yang menuai protes keras karena menyinggung keberadaan masa kecil nabi Muhammad SAW yang cukup mengganggu komunitas habaib dan umat islam Indonesia.



Lahir 24 Syawal 1259 H di kota Qosm Hadramaut Yaman, alm Habib Ali memiliki orang tua yang memang syarat dan kental dengan pengajaran dinul islam yang ketat serta akhlakul karimah meniru para pendahulu (datuk datuk nya). Cerita dari kawan duduk majleis Habib Anis (pengajian rouhah siang masjid Riyadh Solo), Habib Ali rumahnya tak pernah lepas dari tamu atau siapa saja yang mampir dan disediakan makan minum (tho'am) secara cuma cuma. Minim dalam sehari tak kurang 100 orang yang mampir di rumah beliau. Habib Ali memiliki 5 putra, dan yang meneruskan dakwah islam di Indonesia khususnya Surakarta dikuasakan kepada putra bungsunya (alm Habib Alwi) yang makamnya juga ada di masjid Riyadh bersebelahan dengan alm Habib Anis juga alm. Habib Ahmad. Tiap hari ketiga makam dan masjid riyadh selalu ramai oleh pengunjung berbagai kota. Cara berziarah pun sudah disediakan buku panduan di lokasi. Memang agak sempit ukuran normal sebuah pemakaman, namun hal ini justru menjadikan para peziarah disarankan berdoa secukupnya dan seperlunya agar bisa bergantian. 

Habib Muhammad jelaskan manakib habib Ali 


Menurut habib muda Habib Muhammad Bin Husein Al Habsy, orang tua Habib Ali adalah diantara Guru hadratus syeh almukarom KH hasym Asy'ari pendiri NU di Indonesia. Secara otomatis karena pendiri NU ini seangkatan alm KH Ahmad Dahlan yakni pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Dua muridnya sukses dengan mendirikan jam'iyaah NU serta perserikatan Muhammadiyah yang sudah mengisi dalam peran keummatan sebelum Indonesia merdeka 1945. Sedangkan pengajian waktu siang (rouhah) yang penulis sendiri sering ikuti adalah rintisan dari putra Habib Ali yakni Habib Alwi lalu diteruskan oleh Habib Anis. Haul (peringatan tahunan) ini meski berlangsung di kota Solo, namun insan yang insya Alloh diridhoi Alloh SWT justru wafat dan makamnya ada di negri Yaman. Kok bisa ?.

2 cucu habib Anis, kanan alumus T. Kimia UGM

Yahh, ini kebijakan tentunya dan yang lebih faham adalah keluarga besar alm Habib Anis Al Habsy yang terkenal murah senyum dan jika sedang mengadakan pengajian sedikit rileks namun tetap serius. Di samping itu Habib Anis cukup dikenal sosok yang cukup dermawan dan sesuai qosidah berikut ini beliau menuruni sifat sifat para pendahulunya yang ditekankan demikian terutama kalangan lemah (dhu'afa). Para abang becak yang biasa melayani alm Habib Anis sekitar masjid Riyadh, hal hal seperti ini memang memang menjadi buah bibir tentang kedermawanan Habib Anis.

kajian rouhah-siang rintisan habib Alwy

Dulu sering berkecimpung di even even ata acara motor klasik yang memang berjubel motor lansiran tua dan klasik, acara haul ke 108 ini rasanya hampir mirip dari sisi para pedagang atau lapaker yang mebuka stand (lapak) dari kecil hingga besar. Inilah keunikan tersendiri, acara haul berarti @tahun cukup membantu dan mendongkrak ekonomi kawasan Solo serta sekitar masjid Riyadh ditandai dengan : booking hotel yang selalu penuh baik hari ini atau tahun depan, muncul pedagang kagetan, rumah rumah penduduk beralih fungsi menjadi tempat singgah dan menginap hingga menyediakan makanan bak warung dadakan dengan tanpa tawar menawar. belum lagi parkir mobil pribadi dan motor yang jauh dari lokasi juga sumber income tersendiri dan karena berlangsung 3 hari maka cukup menjadi tambahan penghasilan yang berarti meski secara fisik memang cukup melelahkan. Impas lah gaya bahasa saat ini. Dari susunan lapak lapak memang pantas menyamai jambore motor klasik di Indonesia yang memang selalu ramai tiap even, bedanya kalau jambore motor itu tiap 3-4-5 tahun, sementara haul ini sesuai namanya : tahunan (tiap tahun).


jalan utama pun ditutup sementara

Kata Haul sndiri ada dalam Al Quran, yakni Haulaini : 2 tahun (untuk ibu yang menyusui anaknya dengan sempurna), QS Al baqoroh 233

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh...al aayah.


pengajian habib Anis putra Habib Alwi

Barokallohu Lahum (barokah buat mereka) yang sudah mensukseskan acara tahunan ini khususnya keluarga besar Habib Hasan Bin Anis Bin Alwi Bin Ali Al Habsy yang menjadi tuan rumah utama Haul 108 th Habib Ali di Solo. Dan kepada Habib Habib muda yang sekarang menjadi ustadz (narasumber) di kajian siang hari (rouhah) seperti : Habib Ali, Habib Umar, Habib Muhammad, Habib Alwi dll serta Habib Syeh yang selalu hadir bila tak ada acara di luar kota. Semoga semuanya diperpanjang usianya, berkah hidupnya serta masayrakat pada umumnya bisa mengambil manfaat dari sisi keilmuwan yang bersanad serta bertabarruk an karena bagian dari Ahlul Bait yang Alloh SWT sendiri yang mencanangkan program untuk selalu memurnikan aqidah serta selalu ingatkan umat islam agar setia dengan warisan para nabi nabi yakni ilmu, khususnya nabi terakhir N Muhammad SAW, seperti tersebut dalam QS Al Ahzab : 33.

Habib Muhammad dampingi HRS saat di Solo



Allohu A'lam


* NB ; sangat diucapkan rasa terima kasih bila ada yang memberikan masukan, saran, ralat atas tulisan ini karena sumber yang didapat masih jauh dari kelengkapan dan ksempurnaan. Mengingat yang dibahas adalah dzurriyah Nabi Muhammad SAW.

Thursday, December 12, 2019

Mengapa Harus Ada Islam Radikal. Dan Moderat

Harus diakui pemberian stigma (labelling) teroris, akibat perbuatan serta  ulah oknum untuk memojokkan umat islam indonesia kurang berhasil sejak peristiwa WTC tahun 2000 an. Dan cukup melelahkan serta dana yang telah keluar tidak sedikit. Entah apalagi yang akan disuntikkan dengan aneka tema, istilah, judul hingga umat islam nampak lemah atau terpojok dengan berbagai hantaman issu serta stigma. Kenapa demikian ?. Inilah rahasianya, karena Nur Islam hanya Alloh SWT sendiri yang akan menjaga serta merawat, namun umat islam sendiri ternyata secara implisit lemah dengan ajarannya, hingga perlawanan berbagai istilah dan stigma masih berjalan tidak secara komunal (kompak). Andai kuat dalam pembelaannya yakni wakil umat islam di parlemen, tentu tidak terjadi hingga saat ini bahwa HRS pun alami kesulitan untuk pulang ke indonesia. Ini bukti, intervensi asing entah apa wujudnya masih sangat kuat sekali. Bukankah HRS itu nasab atau turunan Nabi Muhammad SAW ?. Jangankan hanya nasab kesekian, nabi rosul sendiri juga alami serupa meski di awal tugas, nabi rosul itu tidak ditujukan untuk merebut kekuasaan atau pengaruh kenegaraan.

sumber gbr : muslimahtimes dot com

Bahkan ada beberapa tokoh atau pakar yang ikut arus memasarkan istilah istilah itu, atau takut menjadi tameng dan berdiri paling depan guna membentengi umat islam. Kematian usamah bin laden, sebagai tanda drama tema teroris akan berakhir, benarkah ?. Tidak, jawaban sementara. Akan banyak lagi ditemui di kemudian hari, silakan saja nikmati hari hari dengan pengumuman atau pemberitahuan dengan judul judul yang kadang membuat telinga ini keri (keri : bhs jawa yang artinya gatal sedikit) namun memang terasa. Akan tetapi ini juga dirasakan mereka mereka yang sudah berpengetahuan medium ke atas tentang ajaran islam. Buat kalangan awam dan kebanyakan, postingan berita, media, koran dan TV bagai mascotnya kebenaran, tidak bisa ditolak dan harus diterima apa adanya. Inilah guna majelis majelis pengajian, yang akhir akhir ini pun mau disentil dengan aneka peraturan peraturan percobaan.

hasil ide radikal-tak cukup dg ide moderat

Tulisan ini buah tangan yang sumbernya dari masyarakat terkecil, yakni sebuah majelis yang di dalamnya beranggotakan jamaah umroh dan haji. Pada kesempatan itu narasumber memberikan reaksi yang hangat dengan penistaan agama yang elum lama terjadi yakni : saat bocah nya nabi Muhammad SAW serta istri Beliau SAW sesudah Khodijah RA yang masih belia yakni Aisyah RA. Sang narasumber dengan ringannya, kita ini sudah tidak usah neko neko, cukup menjadi moderat saja. Kritis boleh, namun tidak usah bertindak yang berlebihan. Sebenarnya ungkapan demikian itu syah syah saja, namun kata moderat menjadi lain bagi penulis. Menurut hemat kami, itu bentuk cari aman dan belum menunjukkan identitas yang jelas, apalagi diperdengarkan kalangan yang sedikit ada wawasan (jamaah umroh dan haji), khususnya lagi ada sebagian jamaah itu terbiasa dengan majelis pengajian berbagai tempat. Dan background narasumber tersebut kebetulan masih aktif di instansi yang berkaitan dengan keagamaan, aktif di ormas dan beberapa yayasan bergerak dalam pendidikan. Mungkin akan bersikap tegas dan jelas untuk saat ini belum pas menurutnya, dan hipotesa kami sebagai pendengar, perlu memberikan tambahan dan koreksi. Menunggu pengajian yang sama yakni dengan menanti 1 bulan lagi terlalu lama untuk iklim yang berubah ubah saat ini. Saat itu karena waktu amat terbatas menjelang maghrib pun masuk hitungan beberapa menit, maka tanya jawab tak bisa dengan leluasa dilangsungkan.

ide radikal mampet akhirnya jd tmp selfi

Sebagai muslim yang harus kaffah (menyeluruh) sulit untuk membuat sebuah kesimpulan yang mewakili semuanya. Al Quran yang memuat 6000 lebih ayat, hadist hadist serta kitab kitab ulama salafus salih belum lagi beberapa kitab tafsir yang masyhur. Bagaimana anda mau memberikan dengan kesimpulan moderat ?. Atau dengan kebalikannya dengan kata radikal ?. Belum lagi shiroh nabawiyah serta shiroh sahabat (4 khalifah rasyidah) yang terkemuka. Jika memang harus menggunakan kata, labih tepat dengan radikal. Radikal menurut  kamus adalah  : mendasar (radiks), kepada yang prinsip. Jika mengetahui Islam sampai kepada yang prinsip, ini adalah bagus dan mantab. Sedangkan moderat : berkecederungan ke arah dimensi atau jalan tengah. Silakan simak kamus ini. Zaman penjajahan Belanda, menurut cerita beberapa orang tua ada islam : abangan, santri, ningrat. Dan ternyata istilah atau penisbatan ini sudah sirna.

Islam sudah memiliki beberapa istilah baik yang bersumber  2 sumber utama atau hasil ijtihad para ulama ulama terdahulu sebagaimana pembagian najis (muhkofafah/ ringan, mugholadhoh/ berat, ma'fu/ termaafkan). Sholat tahiyatul masjid (penghormatan masuk masjid) juga penamaan dari ulama yang masyhur, dll masih banyak lagi, dan itu semua hasil kesepakatan secara ijma' (komunitas ulama yang ilmu nya sudah diakui dunia islam).  Kenapa moderat dan radikal, dimasukkan terutama memasuki zaman moderen ini, lalu oleh beberapa penguasa yang punya legitimasi dengan gampangnya menjatuhkan gelar itu terutama kepada kalangan yang berseberangan ?. Padahal yang berseberangan, boleh jadi saran, masukan, usulan dan nasehatnya bisa memberikan manfaat masyarakat banyak (yang dipimpin oleh penguasa ybs).

Hal demikian sebenarnya bukan hal baru, karena saat Firaun berkuasa, nabi Musa AS yang merupakan utusan Tuhan tetap saja dianggap radikal (ekstrem) karena akan mengganggu kekuasaannya. Nabi Muhammad SAW pun alami nasib sama, meski sudah tidak tergoda oleh 3TA (tahta, wanita,harta) tetap saja dianggap radikal oleh tokoh tokoh Makkah saat itu yang tak lain diantara mereka tahu betul siapa Muhammad baik saat anak anak hingga pemudanya dan tidak lain sebagiannya adalah paman pamannya sendiri. Akhirnya demi amannya ajaran islam musti dilakukan, ada perintah harus pindah (hijrah) ke Madinah setelah beberapa kabilah sepakat untuk menghabisi N Muhammad SAW. Kesepakatan itu dalam rangka menghindari tuntutan di kemudian hari, tentang siapa yang menjadi eksekutor karena sudah kesepakatan kabilah (kebersamaan semua suku/ bani yang ada).

Setelah mukim di Madinah dan berdirilah daulah yang ditandai dengan hubungan rosululloh ke berbagai negara baik timur (persi) dan barat (romawi) setelah melewati masa damai (gencatan senjata dengan musrik Makkah). Memang tidak diumumkan secara langsung nama pemerintahan itu, namun beberapa contoh (uswah) Nabi SAW selaku pemimpin dan penguasa bisa diambil beberapa pelajaran baik saat : di masjid, di saat perjalanan, damai, perang, kelola rampasan, kelola upeti, ibadah umum dari sholat, puasa hingga haji, masalah jenazah, muamalah/ hubungan sosial antar manusia baik sesama agama atau beda agama, pemberian maaf bagi yang masuk islam saat penaklukan Makkah, qishos bagi kalangan penghianat, mengajar hitungan zakat, membina rumah tangga, fikih jima' (hubungan suami istri), hukum darah wanita,  menerangkan hal ikhwal budak, warisan, surga , neraka, siksa  dll dan tidak bisa disebut satu satu (berbagai kitab hadist membahas bab bab itu) dan inilah buah karya para ulama yang tak kan pernah lekang diterjang zaman selain Al Quran yang merupakan kalamulloh (wahyu) serta kumpulan sabda sabda Nabi Muhammad SAW (yang terkumpul dalam beberapa kitab seperti Bukhori, Muslim, Abu Dawud dll).

Lalu uswah dan cara Beliau mengelola kejadian dalam aneka problem kehidupan tersebut tiba tiba muncul kata : islam moderat dan islam radikal ?. darimana  dan bagaimana menyimpulkan dengan kalimat yang sangat minim makna ?. belum lagi moderat dan radikal, apakah bisa menjangkau ilmu tentang : makrifat, hakikat, akhirat, hari kebangkitan, hisab amal, mizan, syafaat shughro dan syafaat kubro, hukum niyat, siksa kubur hingga surga dan neraka yang memang memerlukan kajian khusus, serta telaah khusus keluarga nabi Muhammad SAW sampai akhir zaman (ahlul bait).

Rasanya tulisan mengapa harus ada islam radikal dan moderat, tak ada artinya sama sekali bila disandingkan dengan ajaran islam yang kaffah yang sempurna dari Alloh SWT dan dibawa utusan khusus (rosul) memakan waktu lebih kurang 23 tahun. Bila ingin perbandingan sederhana, tengoklah kemajemukan bangsa indonesia lalu buatlah kalimat yang mengandung kata : moderat dan  radikal. Apa dan bagaimana akibatnya ?. Jika tak terima, begitulah dan demikianlah dengan Islam yang hanya dikesankan dengan 2 kata saja. Terlalu jauh dan bukan penilaian yang obyektif dan jujur. Seperti menghitung jumlah kerikil atau batu kecil di padang pasir. Sama sekali tak ada gunanya, sama sekali bukan perwakilan yang baik karena moderat dan radikal hanya menyangkut urusan dunia (fisik) saja. Menjangkau iman dan ihsan yang ada dalam Islam pun tidak mampu. Lalu, isu moderat dan radikal untuk apa ?

Tanyakan pada mereka yang sudah membuat pernyataan pernyataan. Yang sudah membuat pernyataan pun, insya Alloh juga tak akan pernah paham bahkan bila peraturan pun sudah diterbitkan. Lucu bukan ?

Sebagai penutup tulisan ini kami sajikan sebuah perenungan tentang tidak ada paksaannya masuk dalam agama Islam. Abu Husoain Al Anshori RA yang sangat marah karena kedua putra laki lakinya berubah menjadi Nasrani. Akhirnya sang ayah mengadukan kepada Nabi Muhammad SAW tentang masuk nasrani nya kedua anak itu. Akhirnya turun ayat tentang : tak ada paksaan dalam agama (baca islam). Semuanya telah jelas, mana yang benar mana yang bengkok.....al aayah (QS. Al Baqoroh : 256, tafsir muroh labib Imam Nawawi Al Bantany).

Bagaimana anda menyimpulkan ini ?. Begitu tolerannya Islam dalam hal pilihan agama, lalu apakah langsung kita katakan dengan : Islam itu Moderat ?. Lalu sang ayah (Husoin Al Anshory RA) kita katakan islamnya radikal karena memaksakan kepada 2 anaknya. Sementara tidak lama kemudian sang ayah yang tadinya memaksakan berubah menjadi memberikan pilihan setelah turunnya ayat tersebut, lalu kita sebut islamnya moderat karena penuh toleransi ?.

Insya Alloh jika kata moderat dan radikal dipaksakan dalam realitas masyarakat, akan alami kebingungan kebingungan yang nyata dan bisa jadi akan ditertawakan mereka yang terbiasa duduk dalam majelis majelis ilmu (dinul islam).














Monday, December 9, 2019

Benarkah Anak Diurus Kakek Umumnya Tidak Terurus

Belum lama muncul pidato (ceramah) yang intinya : anak anak yang diasuh kakek/ nenek umumnya tidak terurus dengan baik, yang akhirnya memunculkan kontroversi di media sosial pekan lalu bahkan hingga saat ini. Semoga itu ucapan pribadi saja, yang tidak mutlak mendasarkan kepada nabi Muhammad SAW saja . Akan tetapi ucapan kontroversial jangan menimpa kepada nabi rosul yang lain. Dengan permintaan maaf di kemudian hari dari yang menyampaikan ceramah (Gus M), semoga menjadi peringatan penting yang tidak akan terulang. Pengalaman penulis yang kebetulan sempat diasuh kakek (dalam hal pengajaran islam) disamping pelajaran formal di sekolah (SMP Al Islam 1 Solo), serta sebagian waktu SMA Al islam I Solo (kakek mulai sakit agak serius saat kelas II SMA) tentu bila hanya andalkan pelajaran sekolah, wawasan dan pengetahuan masih minim sekali. Namun pengaruh secara tak langsung justru diperoleh dengan sahabat sahabat kakek (alm). Pernah ditulis disini tentang penisbatan bani kepada kakek.

keakraban kakek dengan cucu
Kenapa bisa demikian ?. Saat SD yang masih polos dan lugu yang merupakan dunianya anak anak dan bermain, di rumah (pendopo) kakek alm. sudah diadakan pengajian rutinan malam jum'at tiap habis Isya' dengan pembacaan Al Muwatho' nya Imam Malik Bin Anas (kitab kuning pertama di kancah dunia kitab klasik). Tamat SD, sudah khatam (lulus) ilmu tajwid juga dengan pengajaran langsung kakek (alm) termasuk memperoleh seni beliau dalam hal mengajar (salah lafadz dipukul ringan sampai betul pengucapan huruf huruf hijaiyah nya) sampai dengan semakan hingga khatam Al Quran,  yakni bersama anak anak pondok pesantren Nirbitan Solo. 

Di lingkup pengajian kitab Al Muwatho', meski hanya sebatas menghidangkan minuman, snack dan terkadang makanan berat (piringan) justru inilah magnit yang kuat untuk menjalin dengan rekan rekan kakek (alm). Keluarga ayahanda (alm) Jawa Timur sudah kurang berbekas ruh diniyah nya, akibat persoalan klasik tentang harta peninggalan (warisan) yang sering mengundang konflik internal. Maklum Yayasan As Sholeh Nganjuk rintisan ayahanda (alm) ditinggalkan dalam keadaan kurang terurus dan terawat mesti bangunan fisik hingga saat ini masih utuh. Alhamdulillah, berkat reuni besar II bulan Agustus 2019 lalu berhasil mengumpulkan balung pisang keluarga besar Bani Syukur (kakeknya ayah) dan sepertinya ada sinaran baru bahwa yayasan akan tetap eksis, sebab dari 17 Bani yang hadir semuanya guyub rukun membangun tinggalan putranya (As Sholeh) yang monumental dan legendaris yang berdiri saat ayahanda (alm) masih muda.

kolaborasi kakek cucu dalam sebuah album

Sebenarnya tulisan ini masuk ranah private (pribadi) akan tetapi ceramah Gus M tersebut, perlu kontra ilmiah bahwa pendidikan asuhan kakek tidak selamanya tidak terurus dengan baik. Kami ingin membuktikan itu, kontra dengan itu dan melawan dengan konklusi (kesimpulan) demikian. Bila kembali pada kisah anak hingga pemuda Muhammad yang belum menjadi Nabi/ Rosul lalu dihubungkan dengan Fathu Makkah (pembebasan Makkah) serta pembebasan daerah sekitar dalam perang Hunain misalnya, yang menjadi penyemangat justru saat Rasululloh SAW dengan suara kencang dan jelas mengumandangkan :

Ana Ibnul Mutholib, Ana Ibnul Mutholib......(saya anak Abdul Mutholib, saya anak Abdul Mutholib)

Muslimin paham, Abdul Mutholib adalah nama kakeknya, kenapa disebut dan disuarakan dengan keras ? Tidak lain karena semangat yang sudah pupus, semangat muslimin hilang saat itu. Meski jumlah banyak, akan tetapi strategi pasukan musuh islam sangat jitu, bahkan pasukan muslimin pun sempat mundur dan kocar kacir. Dengan disuarakannya nama Abdul Mutholib (nama kakek baginda Nabi Muhammad SAW) maka bangkitlah muslimin saat itu meski hanya dengan 200 personil yang bangkit di medan laga, akhirnya berhasil memenangkan perang Hunain (Dr. Said Ramadhan Al Buthy, Fikih Shiroh). 

Penulispun bila mengingat biji  yang saat itu ditanamkan dengan pola tanam sederhana sekali, yakni membantu pelayanan para murid kakek (alm) saat pengajian Al Muwatho', Ternyata inilah yang akhirnya menjadi main spirit, dan buahnya hingga saat ini dan detik ini. Buah itu adalah penulis ingin menghidupkan kembali pengajian yang dulu dirintis oleh kakek (alm). Di samping itu rekan kami yang usianya selisih 1 th saja, ternyata di tempat tinggalnya sekarang (di kota B Jawa Tengah) juga merintis pengajian Riyadus Salihin yang kebetulan dulu dirintis oleh putra paling besar kakek (alm). Ternyata pengajaran kakek (alm) cukup membekas, walaupun tanpa instruksi serta pesan khusus : agar besok demikian demikian.

(inzet : kekompakan habib syeh dan cucu di markaz nya)



Dengan kebesaran nama Abdul Mutholib di lingkup Bani Hasyim yang merupakan pengurus siqoyah (pengurus pembagian bekal dan air minum) dan rifadah (pengurus pengumpulan para dermawan untuk selanjutnya dibagikan pada tamu tamu haji) di Makkah, tentu sedikit banyak mempengaruhi karakter Muhammad muda walaupun belum diangkat menjadi Nabi/ Rosul. Pengaruhnya tentu yang berkaitan langsung adalah : manajemen pembagian, majemen waktu, manejemen kepercayaan, perkenalan relasi baru kawan kawan kakeknya dll, sebab yang diurus adalah tamu tamu antar wilayah dan tak sedikit dari luar Arab. Meskipun kurang dari 10 th asuhan kakeknya, Muhammad muda tetap dapat mengambil nilai nilai dari kemasyhuran sosok Abdul Mutholib juga sebagai tokoh disegani di kalangan Quraisy serta Bani Hasyim.



Adapun sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih atas bimbingan kakek alm. yang telah memperkenalkan pengajian kitab Al Muwatho' kurun th 80-an, maka kami meneruskan dengan pembacaan kitab lain yakni pembacaan hadist bukhory di masjid Al Huda Nirbitan. Sebuah era atau masa yang terulang lagi, ibarat sebagai perwujudan periwayatan yang sering terdapat dalam hadist bukhory, yakni : dari fulan , dari ayahnya, dari kakeknya.....dst lalu sampai kepada sahabat, dari sahabat sampai kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Meski terpotong, karena sejak kanak kanak kami sudah tidak berjumpa ayah (alm) karena wafat, namun pengajaran kakek (alm) sangat berharga dan luarbiasa.

Ilaa Hadrotii Jaddii Almukarrom Abdussomad Nirbitan Surakarta, waLahul Fatihah

Allohummghfirlahu Wa'aafihi Wa'fu 'anhu. Wa Akrim Nuzulahu Wa Adkhilhul Jannata Mastwaahu

Amin




Sunday, December 8, 2019

Memuliakan Jejak Para Nabi Rosul Tanpa Batas

Siapa tak kenal nabi Musa AS saat bocah atau kecil lidahnya sudah cedhal (pelo : bhs jawa), hingga saat jadi nabi bahkan meningkat menjadi rosul (menyampaikan risalah kepada umat nya) musti ditemani Nabi Harun AS yang tak lain kakaknya sendiri. Bukan cela atau kekurangan, misi dan visinya harus ditemani kakaknya yang relatif lebih bijak (arif, lembut, penuh hikmat) daripada adiknya. Namun derajat kerosulan tetap disandang Musa AS. Kisah saat bayinya lebih tragis lagi, bayi Musa musti dialirkan ke sungai dengan kotak kecil (mini) sesuai ilham yang diterima ibunya dari Sang Khaliq hingga berhenti di komplek istana Firaun. Hal demikian untuk nabi nabi yang lain bisa jadi sama, mengalami kejadian kejadian yang di mata manusia biasa tidak lazim, bahkan seperti sebuah kerendahan sosial (status), akan tetapi itulah takdir yang sudah disematkan dalam mengisi roda kehidupannya.

tradisi mengumpulkan putra putra para habaib tiap tahun merupakan tradisi yang masih langgeng (inzet gbr : sumber khsblog)

sumber : khsblog

Manusia yang beradab, tidak perlu memperpanjang lebarkan kisah bayi Musa dengan kondisi demikian, yang bisa jadi menurut ukuran dan pikiran manusia biasa tidak bagus, tidak baik dll. Terlebih saat berguru kepada nabi Khodir AS (Khidir AS), sang Guru merusak sebagian kapal yang dipakai penumpang saat itu dengan alasan Guru, sang Raja akan merampas kapal kapal yang melintas kerajaan. Dengan dirusak sebagian, harapannya Raja tidak merampas, penumpang utuh hasil kerjanya saat itu, sedangkan kapal rusak masih bisa diperbaiki lain hari. Sang Guru mengingatkan pelajaran besar (hakikat kehidupan) kejadian ini kepada murid yakni Musa AS bahwa : kapal itu barang besar, meski rusak masih bisa diakali serta diperbaiki menjadi bagus (normal kembali). Bagaimana jika kotak kecil yang memuat bayi Musa saat itu hanyut atau rusak menabrak batu, maka akan pasti rusak dan secara syariat nasib Musa juga belum tahu bahkan bisa hilang nyawa. N Musa AS yang pangkatnya rosul tertegun dengan penjelasan Khodir AS (yang lebih rendah derajat) namun dipilih Sang Khaliq menjadi Guru Spiritualnya. Akankah kita menjadikan bahan ejekan, rosul kok diajari sama manusia yang lebih rendah derajat nya ?. Itulah, dan memang ini sudah dalam skenario (sunnatulloh) diberlakukan seperti itu. Sedikit kelalaian N Musa AS saat berpidato di hadapan umatnya, dan umatnya ada yang bertanya yakni : 

Adakah manusia lebih pintar dari anda wahai N Musa AS ?, lalu terburu buru Musa AS menjawab : Tidak ada....!!! sebagaimana riwayat ini diberitakan dalam beberapa permasalahan ilmu berbagai kitab hadist. Bahkan Al Quran secara global menguraikan secara urut dalam QS Al Kahfi, di awal juz 16.

Begitu pula dengan nabi Muhammad SAW yang dikenal nama lain dengan Ahmad (QS. As Shof), yang mengkhabarkan justru N Isa AS saat menyampaikan risalahnya di hadapan kaum nya (bani Israil saat itu). Nabi Rosul yang hidup di zamannya akan selalu mengkhabarkan kedatangan nabi terakhr itu dengan ciri ciri yang cukup jelas melebihi seorang ayah yang cukup kenal dengan ciri ciri anak anaknya. Saat masih kanak kanak usai wafat ibundanya (Aminah), beliau alami pembersihan dalam (dada) tujuannya untuk membersihkan ketauhidan saat itu dengan tak pernahnya muhammad kecil ikut menyembah berhala walaupun makkah terkenal dengan penyembahan berhala sebagai sarana mendekatkan kepada Alloh. Juga kisah saat akan pergi ke syam, lalu bertemu dengan pendeta Nasrani yang saat itu pemuda ini bersama pamannya Abu Thalib.

tak ada sekat/klas di pengajian habib anis


Pendeta Bukhoiro  setelah meneliti anak ini dengan seksama didapati bahwa nak itu akan menjadi nabi akhir zaman di kemudian hari serta pendeta menyarankan agar balik ke makkah. Sebab bila ketahuan yahudi, akan dibunuh anak itu. Sudah menjadi mindset, sejak Musa AS wafat dianggap kalangan yahudi dunia kenabian sudah berakhir. makanya N Isa AS dikejar kejar sepanjang hidupnya, begitu pula jika muhammad kecil muncul di kalangan yahudi, akan mengakibatkan kejadian fatal yakni muhammad akan dikejar kejar hingga akan dibunuh. Penjagaan bersifat ilahiyah yang akhirnya pemuda Muhammad menikah dengan khodijah RA yang lebih tua usianya, juga akan menjadi bahasan miring bilamana dikaitkan dengan normalitas saat ini mengapa pemuda menikah dengan janda yang jauh usianya ?. Khodijah RA memang sudah ber-azzam (semacam bersumpah dengan dirinya)  tidak akan menikah lagi, kecuali beliau bisa bertemu nabi terakhir. Demikian itu dipahaminya, karena beliau wanita yang sukses dan alim serta menguasai taurat hasil didikan pamannya (waroqoh bin naufal) yang buta serta lanjut usia namun menguasai kitab injil serta membenarkan kedatangan nabi akhir tersebut. Simak sekilas perjalanan Muhammad muda (12 th an) bersama pamannya : disini.

Di saat menerima wahyu awal awal, rosululloh SAW sempat bertemu pendeta yang sudah tua (Waroqoh Bin Naufal) dan Khodijah RA selaku ponakan pendeta itu  menjelaskan perihal wahyu yang barusan diterimanya. Waroqoh mengatakan bahwa itu seperti Namus, yang terjadi pada diri nabi Musa AS. Lalu Waroqoh berpesan agar senantiasa menjaga dalam situasi apapun akan nabi akhir ini, sebab akan mengalami gangguan cukup banyak. Bahkan pendeta itu berujar, andai aku bisa menemani hidup nabi akhir zaman ini maka aku akan ikut berjuang bersamanya. Dan ia mengatakan, nabi akhir zaman itu akan diusir dari tanah kelahirannya (yang akhirnya muncul peristiwa hijrah). Betapa berat yang diemban nabi akhir zaman itu, akan tetapi buat Khodijah RA bukan sebuah halangan besar, karena beliau selaku wanita sudah menunggu kedatangannya via keyakinannya akan taurat yang ia kuasai dengan Guru yang benar yakni pamannya sendiri. 

Sejak dulu memang ujian dan testcase para nabi rosul amat berat, sejak risalah disampaikan diawali N Nuh AS hingga N Muhammad SAW. Bahkan ada sebuah surah khusus Surah Nuh yang mengkisahkan awal hingga akhir perjuangannya dengan runut, meski di surah lain juga ada. Penghinaan terhadap perjuangan selama 900 tahun lebih N Nuh AS baik oleh putra sendiri serta istrinya berakhir tragis, yakni permintaan N Nuh AS agar orang orang kafir dihabisi saja, sehingga selamatlah mereka baik manusia dan hewan yang berada di kapal serta berlabuh di bukit Juddy. Bagaimana dengan nabi terakhir yang juga alami pelecehan, penghinaan entah terkait  istri istri nya, masa kecil nya, masa pemuda nya, masa kenabiannya ? Akankah ada hukuman kontan dari Yang mengutus Nya ?. Wallohu A'lam, yang jelas jangan pernah sekali kali mencoba  baik sadar atau tanpa sengaja melecehkan masa kenabiannya serta keberadaan ahlul bait nya (keluarga besar yang masih ada di dunia hingga akhir zaman). Alloh SWT telah punya program sendiri untuk mensucikan tauhid para ahlul bait (keyakinan yang prinsip), seperti tersebut dalam QS Al Ahzab : 33

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya



Tuesday, December 3, 2019

Terminologi Jalan Jalan Dan Kumpul Kumpul

Berkumpul entah jumlah kecil atau banyak adalah fitrah manusia dalam bingkai sosial serta kebutuhan untuk mengemukakan pendapat atau suara. Dalam ranah islamic learning (ajaran islam) yang global sejak dulu hingga saat ini, seperti memontm 212 serta reuni nya adalah sebuah kejadian yang nantinya akan terwujud dalam alam mahsyar (alam sesudah kebangkitan kematian yang pertama). 212 masih sebatas komunitas umat islam, meski terkadang masih ada juga pengamat (baca bule) yang ingin mengabadikan kejadian langka serta spektakuler itu. Berkumpul dalam jumlah besar, tentu diawali perjalanan menuju tempat berkumpulnya tersebut, misalnya : monas untuk 212, lapangan bola : upacara dan pertandingan sepak bola, gedung pertemuan untuk konggres atau sejenis walimahan dan pesta serta rumah untuk arisan ibu ibu PKK yang lebih kecil scope nya. Cara menuju tempat tempat itu bisa dengan jalan kaki, naik kendaraan berupa hewan (zaman dulu), hingga naik pesawat yang melibatkan antar pulau dan negara.


jalan menuju acara 212

Kejadian tahuan (annual event) seperti ibadah haji adalah contoh nyata, akan tetapi masih sebatas ummat islam juga. Andai pilot, nahkoda kapal, belum islam pun masih bisa. Akan tetapi ada kendala jika itu masuk wilayah tanah suci (haromain) yakni Madinah-Makkah terutama di batas luar masing masing kota itu. Ada semacam tugu batas yang sudah berkoordinat GPS di kota Makkah dan Madinah. Konon kepercayaan warga setempat, area di dalam batas itu terjaga oleh malaikat dan selain muslim tidak boleh masuk. Itu syah syah saja, karena kondisi umat islam setempat masih solid, dan pemerintah masih menjaga batas batas territorial dengan baik. Ada masa (insya Alloh) masih lama, kondisi dimana Ka’bah akan dicopot pelan pelan yakni struktur fisik bangunannya oleh orang afrika yang berkulit hitam (dalam sahih Bukhory), yang menandakan islam akan lenyap di bumi ini, dan inilah kiamat sudah sangat dekat.


kumpul kumpul untuk reuni 212


Kumpul kumpul ini bila disimak perjalanan suksesnya nabi Muhammad SAW berawal dari kumpul kumpul yang sederhana (sembunyi) hingga agak terbuka yang mengambil tempat di rumah Arqom Bin Abil Arqom. Abu Bakar RA sebagai kawan dekat Nabi SAW masih membuat tempat sendiri (mushola) di rumahnya, dan sebatas untuk pribadi dan saat hijrah tempat ibadah itu dihancurkan kalangan yang anti dengan islam (musrik Makkah). Selama 13 tahun ternyata kumpul kumpul itu alami umpatan, penyegelan hingga ancaman yang akhirnya memunculkan perintah pindah (hijrah) dengan jumlah yang belum besar (dibawah 100 personil).Namun ada pemandangan cukup beda, yakni saat hijrah ke Madinah, disana sudah disiapkan berbagai sarana dan ubo rampe (bhs jawa) untuk menampung para muhajirin (orang orang yang hijrah menyusul Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar RA). Di kota ini kumpul kumpul relatif kondusif dan aman serta mendapat perlindungan penuh dari kalangan Anshor (kalangan penolong muhajirin).

foto jamaah haji tempo dulu (sumber : kumparan.com)

menuju Makkah tempo doeloe

Di kota Madinah ini pula, akhirnya kumpul kumpul memiliki makna luas dengan pelbagai persoalan yang komplek karena komunitas Madinah ada 3 (muslim, nasrani, Yahudi). Problem meluas hingga kumpul kumpul pun untuk membahas strategi dalam peperangan (harb), karena gangguan dakwah N abi Muhammad SAW sudah melibatkan pasukan terstruktur (pasukan, logistik, basecamp, transportasi dll). Akhirnya yang kumpul kumpul pun, meluas dari kalangan yang awalnya sejalan dengan Rasululloh SAW, lalu balik arah menjadi perongrong (penggembos) perjuangan beliau yang akhirnya muncul golongan munafik yang melahirkan pengikut pengkut nabi palsu (dipelopori Musailamah dan Al Ansy). Belum lagi kumpul kumpul itu merambah kalangan Yahudi yang punya benteng benteng perlindungan yang kokoh, yang sejak awal memang menentang kedatangan N Muhammad SAW di Madinah. Adapaun Nasrani, sebagian masuk ke dalam islam namun sebagian menyingkir ke wilayah syam (palestina yang menjadi kekuasaan nasrani romawi). Perjuangan Beliau SAW memasuki tahun ke-9 baru menapak ke arah ketenangan yang significant (berarti) yang masuk tahun ke-10 adalah tahun wafatnya Beliau yang dimakamkan di Madinah.

(monas, reuni 212, 2019)


Terminologi jalan jalan dan kumpul kumpul  paling mengesankan adalah saat akan dilaksanakannya ibadah Haji Wada’ yang merupakan puncak kemenangan islam di seluruh jazirah Arab (meskipun di luar juga ada dengan diwajibkannya bayar upeti karena mereka masih dengan keyakinannya terutama nasrani, namun tunduk dengan pemerintahan Madinah). Dalam Shiroh Nabawiyah nya Dr Ramadhan Al Buthy menggambarkan spektakulernya jalan jalan menuju tempat berkumpul untuk haji (makkah). Saat Nabi Muhammad SAW keluar Madinah, maka di luar wilayah Madinah sudah menunggu warga setempat dalam jumlah banyak sekali dengan jalan kaki hingga naik kendaraan (unta) menyambut dan menemani Nabi Muhammad SAW menuju Makkah. Rombongan baru yang masuk langsung menempatkan diri, memenuhi samping kiri dan samping kanan Nabi Muhammad SAW begitu seterusnya hingga wilayah dekat Makkah tumpah ruah menyambut kedatangan dan menemani Haji Wada’ (haji perpisahan yang masuk th 10 Hijriyah). Bisa dibayangkan, puluhan ribu calon jamaah haji dengan kostum putih putih dan ditemani Rosululloh SAW sendiri akan melksanakan ibadah yang syariatnya sendiri akan turun saat pelaksanaanya (tatacara dan fikihnya).

Dengan berbondong bondongnya umat islam berjalan, berbaris, berthowaf, bursa’i, berumroh hingga melempar jumroh semua tatacara dengan wahyu yang langsung diturunkan. Sehingga dijumpai kadang kadang Nabi SAW berceramah di atas kendaraan langsung berfatwa dan pelasanaanya dengan mudah (pembolehan) ditandai dengan pertanyaan yang muncul langsung dijawab : tak apa apa....lanjutkan, tak apa apa ..... lanjutkan kecuali memang ada udzur seperti Aisyah RA yang datang bulan (haid) saat thowaf maka langsung distop, karena syaratnya harus suci hadast kecil dan besar. Dan bisa dibayangkan betapa riuhnya, Beliau harus menyampaikan sesuatu yang turun wahyu sementara orang orang berjauhan. Namun semua tunduk khusyu’ saat Beliau SAW berceramah di padang Arafah sebagai puncak ibadah haji yang jumlahnya masih banyak perbedaan antara 70.000 – 100.000 hujjaj (jamaah haji). Saat Beliau berpidato, semua bisa mendengar dengan jelas, tumbuhan juga ikut mendengar, pasir pasir pun ikut mendengar, hingga bebatuan keras pun ikut mendengarkan pidato terakhir beliau.

Jika saja saat saat ini masih ada saja kalangan yang mencela, merendahkan, entah dari sisi kehidupannya saat kecil (bocah) hingga masa perjuangannya yang mencapai puncak kesuksesan nya dengan ibadah Haji Wada’, semoga saja dengan cepat untuk bertaubat. Jika tidak, kekhawatiran yang sangat rasional bisa bisa menjadi kalangan munafik yang memang disandang mereka yang mengaku muslim. Kehidupan Beliau akan banyak diwarnai hukum hukum, teladan, sunnah baik dalam keadaan : berdiam, beribadah, hingga perjalanan biasa yang dekat hingga perjalanan jauh yang memerlukan waktu beberapa hari dan semuanya apabila ada periwayan yang baik (sahih) bisa diteladani ummatnya untuk dilakukan, ditiru, diajarkan dan jangan sampai ada yang menafikan (merendahkan ajaran ajaran tersebut) dari sisi manapun.

Solluu ‘Alan Nabiyy.....Solluu ‘Alaihi wa Tasliimaa