Thursday, December 12, 2019

Mengapa Harus Ada Islam Radikal. Dan Moderat

Harus diakui pemberian stigma (labelling) teroris, akibat perbuatan serta  ulah oknum untuk memojokkan umat islam indonesia kurang berhasil sejak peristiwa WTC tahun 2000 an. Dan cukup melelahkan serta dana yang telah keluar tidak sedikit. Entah apalagi yang akan disuntikkan dengan aneka tema, istilah, judul hingga umat islam nampak lemah atau terpojok dengan berbagai hantaman issu serta stigma. Kenapa demikian ?. Inilah rahasianya, karena Nur Islam hanya Alloh SWT sendiri yang akan menjaga serta merawat, namun umat islam sendiri ternyata secara implisit lemah dengan ajarannya, hingga perlawanan berbagai istilah dan stigma masih berjalan tidak secara komunal (kompak). Andai kuat dalam pembelaannya yakni wakil umat islam di parlemen, tentu tidak terjadi hingga saat ini bahwa HRS pun alami kesulitan untuk pulang ke indonesia. Ini bukti, intervensi asing entah apa wujudnya masih sangat kuat sekali. Bukankah HRS itu nasab atau turunan Nabi Muhammad SAW ?. Jangankan hanya nasab kesekian, nabi rosul sendiri juga alami serupa meski di awal tugas, nabi rosul itu tidak ditujukan untuk merebut kekuasaan atau pengaruh kenegaraan.

sumber gbr : muslimahtimes dot com

Bahkan ada beberapa tokoh atau pakar yang ikut arus memasarkan istilah istilah itu, atau takut menjadi tameng dan berdiri paling depan guna membentengi umat islam. Kematian usamah bin laden, sebagai tanda drama tema teroris akan berakhir, benarkah ?. Tidak, jawaban sementara. Akan banyak lagi ditemui di kemudian hari, silakan saja nikmati hari hari dengan pengumuman atau pemberitahuan dengan judul judul yang kadang membuat telinga ini keri (keri : bhs jawa yang artinya gatal sedikit) namun memang terasa. Akan tetapi ini juga dirasakan mereka mereka yang sudah berpengetahuan medium ke atas tentang ajaran islam. Buat kalangan awam dan kebanyakan, postingan berita, media, koran dan TV bagai mascotnya kebenaran, tidak bisa ditolak dan harus diterima apa adanya. Inilah guna majelis majelis pengajian, yang akhir akhir ini pun mau disentil dengan aneka peraturan peraturan percobaan.

hasil ide radikal-tak cukup dg ide moderat

Tulisan ini buah tangan yang sumbernya dari masyarakat terkecil, yakni sebuah majelis yang di dalamnya beranggotakan jamaah umroh dan haji. Pada kesempatan itu narasumber memberikan reaksi yang hangat dengan penistaan agama yang elum lama terjadi yakni : saat bocah nya nabi Muhammad SAW serta istri Beliau SAW sesudah Khodijah RA yang masih belia yakni Aisyah RA. Sang narasumber dengan ringannya, kita ini sudah tidak usah neko neko, cukup menjadi moderat saja. Kritis boleh, namun tidak usah bertindak yang berlebihan. Sebenarnya ungkapan demikian itu syah syah saja, namun kata moderat menjadi lain bagi penulis. Menurut hemat kami, itu bentuk cari aman dan belum menunjukkan identitas yang jelas, apalagi diperdengarkan kalangan yang sedikit ada wawasan (jamaah umroh dan haji), khususnya lagi ada sebagian jamaah itu terbiasa dengan majelis pengajian berbagai tempat. Dan background narasumber tersebut kebetulan masih aktif di instansi yang berkaitan dengan keagamaan, aktif di ormas dan beberapa yayasan bergerak dalam pendidikan. Mungkin akan bersikap tegas dan jelas untuk saat ini belum pas menurutnya, dan hipotesa kami sebagai pendengar, perlu memberikan tambahan dan koreksi. Menunggu pengajian yang sama yakni dengan menanti 1 bulan lagi terlalu lama untuk iklim yang berubah ubah saat ini. Saat itu karena waktu amat terbatas menjelang maghrib pun masuk hitungan beberapa menit, maka tanya jawab tak bisa dengan leluasa dilangsungkan.

ide radikal mampet akhirnya jd tmp selfi

Sebagai muslim yang harus kaffah (menyeluruh) sulit untuk membuat sebuah kesimpulan yang mewakili semuanya. Al Quran yang memuat 6000 lebih ayat, hadist hadist serta kitab kitab ulama salafus salih belum lagi beberapa kitab tafsir yang masyhur. Bagaimana anda mau memberikan dengan kesimpulan moderat ?. Atau dengan kebalikannya dengan kata radikal ?. Belum lagi shiroh nabawiyah serta shiroh sahabat (4 khalifah rasyidah) yang terkemuka. Jika memang harus menggunakan kata, labih tepat dengan radikal. Radikal menurut  kamus adalah  : mendasar (radiks), kepada yang prinsip. Jika mengetahui Islam sampai kepada yang prinsip, ini adalah bagus dan mantab. Sedangkan moderat : berkecederungan ke arah dimensi atau jalan tengah. Silakan simak kamus ini. Zaman penjajahan Belanda, menurut cerita beberapa orang tua ada islam : abangan, santri, ningrat. Dan ternyata istilah atau penisbatan ini sudah sirna.

Islam sudah memiliki beberapa istilah baik yang bersumber  2 sumber utama atau hasil ijtihad para ulama ulama terdahulu sebagaimana pembagian najis (muhkofafah/ ringan, mugholadhoh/ berat, ma'fu/ termaafkan). Sholat tahiyatul masjid (penghormatan masuk masjid) juga penamaan dari ulama yang masyhur, dll masih banyak lagi, dan itu semua hasil kesepakatan secara ijma' (komunitas ulama yang ilmu nya sudah diakui dunia islam).  Kenapa moderat dan radikal, dimasukkan terutama memasuki zaman moderen ini, lalu oleh beberapa penguasa yang punya legitimasi dengan gampangnya menjatuhkan gelar itu terutama kepada kalangan yang berseberangan ?. Padahal yang berseberangan, boleh jadi saran, masukan, usulan dan nasehatnya bisa memberikan manfaat masyarakat banyak (yang dipimpin oleh penguasa ybs).

Hal demikian sebenarnya bukan hal baru, karena saat Firaun berkuasa, nabi Musa AS yang merupakan utusan Tuhan tetap saja dianggap radikal (ekstrem) karena akan mengganggu kekuasaannya. Nabi Muhammad SAW pun alami nasib sama, meski sudah tidak tergoda oleh 3TA (tahta, wanita,harta) tetap saja dianggap radikal oleh tokoh tokoh Makkah saat itu yang tak lain diantara mereka tahu betul siapa Muhammad baik saat anak anak hingga pemudanya dan tidak lain sebagiannya adalah paman pamannya sendiri. Akhirnya demi amannya ajaran islam musti dilakukan, ada perintah harus pindah (hijrah) ke Madinah setelah beberapa kabilah sepakat untuk menghabisi N Muhammad SAW. Kesepakatan itu dalam rangka menghindari tuntutan di kemudian hari, tentang siapa yang menjadi eksekutor karena sudah kesepakatan kabilah (kebersamaan semua suku/ bani yang ada).

Setelah mukim di Madinah dan berdirilah daulah yang ditandai dengan hubungan rosululloh ke berbagai negara baik timur (persi) dan barat (romawi) setelah melewati masa damai (gencatan senjata dengan musrik Makkah). Memang tidak diumumkan secara langsung nama pemerintahan itu, namun beberapa contoh (uswah) Nabi SAW selaku pemimpin dan penguasa bisa diambil beberapa pelajaran baik saat : di masjid, di saat perjalanan, damai, perang, kelola rampasan, kelola upeti, ibadah umum dari sholat, puasa hingga haji, masalah jenazah, muamalah/ hubungan sosial antar manusia baik sesama agama atau beda agama, pemberian maaf bagi yang masuk islam saat penaklukan Makkah, qishos bagi kalangan penghianat, mengajar hitungan zakat, membina rumah tangga, fikih jima' (hubungan suami istri), hukum darah wanita,  menerangkan hal ikhwal budak, warisan, surga , neraka, siksa  dll dan tidak bisa disebut satu satu (berbagai kitab hadist membahas bab bab itu) dan inilah buah karya para ulama yang tak kan pernah lekang diterjang zaman selain Al Quran yang merupakan kalamulloh (wahyu) serta kumpulan sabda sabda Nabi Muhammad SAW (yang terkumpul dalam beberapa kitab seperti Bukhori, Muslim, Abu Dawud dll).

Lalu uswah dan cara Beliau mengelola kejadian dalam aneka problem kehidupan tersebut tiba tiba muncul kata : islam moderat dan islam radikal ?. darimana  dan bagaimana menyimpulkan dengan kalimat yang sangat minim makna ?. belum lagi moderat dan radikal, apakah bisa menjangkau ilmu tentang : makrifat, hakikat, akhirat, hari kebangkitan, hisab amal, mizan, syafaat shughro dan syafaat kubro, hukum niyat, siksa kubur hingga surga dan neraka yang memang memerlukan kajian khusus, serta telaah khusus keluarga nabi Muhammad SAW sampai akhir zaman (ahlul bait).

Rasanya tulisan mengapa harus ada islam radikal dan moderat, tak ada artinya sama sekali bila disandingkan dengan ajaran islam yang kaffah yang sempurna dari Alloh SWT dan dibawa utusan khusus (rosul) memakan waktu lebih kurang 23 tahun. Bila ingin perbandingan sederhana, tengoklah kemajemukan bangsa indonesia lalu buatlah kalimat yang mengandung kata : moderat dan  radikal. Apa dan bagaimana akibatnya ?. Jika tak terima, begitulah dan demikianlah dengan Islam yang hanya dikesankan dengan 2 kata saja. Terlalu jauh dan bukan penilaian yang obyektif dan jujur. Seperti menghitung jumlah kerikil atau batu kecil di padang pasir. Sama sekali tak ada gunanya, sama sekali bukan perwakilan yang baik karena moderat dan radikal hanya menyangkut urusan dunia (fisik) saja. Menjangkau iman dan ihsan yang ada dalam Islam pun tidak mampu. Lalu, isu moderat dan radikal untuk apa ?

Tanyakan pada mereka yang sudah membuat pernyataan pernyataan. Yang sudah membuat pernyataan pun, insya Alloh juga tak akan pernah paham bahkan bila peraturan pun sudah diterbitkan. Lucu bukan ?

Sebagai penutup tulisan ini kami sajikan sebuah perenungan tentang tidak ada paksaannya masuk dalam agama Islam. Abu Husoain Al Anshori RA yang sangat marah karena kedua putra laki lakinya berubah menjadi Nasrani. Akhirnya sang ayah mengadukan kepada Nabi Muhammad SAW tentang masuk nasrani nya kedua anak itu. Akhirnya turun ayat tentang : tak ada paksaan dalam agama (baca islam). Semuanya telah jelas, mana yang benar mana yang bengkok.....al aayah (QS. Al Baqoroh : 256, tafsir muroh labib Imam Nawawi Al Bantany).

Bagaimana anda menyimpulkan ini ?. Begitu tolerannya Islam dalam hal pilihan agama, lalu apakah langsung kita katakan dengan : Islam itu Moderat ?. Lalu sang ayah (Husoin Al Anshory RA) kita katakan islamnya radikal karena memaksakan kepada 2 anaknya. Sementara tidak lama kemudian sang ayah yang tadinya memaksakan berubah menjadi memberikan pilihan setelah turunnya ayat tersebut, lalu kita sebut islamnya moderat karena penuh toleransi ?.

Insya Alloh jika kata moderat dan radikal dipaksakan dalam realitas masyarakat, akan alami kebingungan kebingungan yang nyata dan bisa jadi akan ditertawakan mereka yang terbiasa duduk dalam majelis majelis ilmu (dinul islam).