Wednesday, October 30, 2019

Bolehkah Wanita Ikut Berperang

Ada sebuah kisah dalam siroh nabawiyah yang disusun alm. Dr Ramadhan Al Buhty yakni tentang fathu makkah hingga perang Hunain yang akhirnya ada kisah juga umroh Nabi Muhammad SAW dari Ji'ronah usai perang Hunain yang waktu itu umat islam berkekuatan 12 ribu pasukan (10 ribu dari Madinah) dan 2000 dari Makkah (yang belum lama mengucap syahadat). Apa kisah itu ?

Yakni dijumpainya Ummu Sulaim RA yang membawa belati di saat perang sedang berkecamuk. Alasannya adalah, untuk menjaga diri jika ada serangan yang tiba tiba mengenai dirinya. Sepenggal isah itu, jelas para ahli yang kompeten menimbulkan ide atau pendapat untuk memaknai kejadian yang berlangsung karena Rosululloh SAW hadir juga. Siapakah Ummu Sulaim RA, bisa kita simak berikut ini. Kehadiran wanita dalam peperangan memang penuh resiko tinggi mengingat dahsyatnya kejadian tersebut. Jangankan berperang, saat bencana pun peran mereka memang terkadang lebih mengagetkan andilnya melebihi peran kaum adam. 

Tentu yang dimaksud akan adanya perbedaan cara pandang adalah :
  1. Wanita itu sekedar membantu para pasukan seperti logistik, pengobatan, mobilisasi dll
  2. Atau memang para wanita itu ikut terjun secara langsung baik di garis depan atau belakang
  3. Pasif, sekedar jaga jaga diri. Andai terjadi, misalnya saat wanita sedang di pasar, tiba tiba muncul 2 kekuatan yang akan perang. Ikut mana dari 2 golongan itu
Inilah kehebatan shiroh nabawiyah (perjalanan hidup nabi) khususnya nabi terakhir yakni nabi Muhammad SAW). Apapun kejadian, peristiwa, responsif yang terjadi terhadap keadaan akan menjadi sumber : hukum, pendapat, hikmah, pelajaran, hujjah dll di kemudian hari. Tak hanya 3 materi yang bisa diturunkan akibat kejadian fathu Makkah dan Hunain di atas, masih banyak lagi yang bisa digali dari sebuah keadaan apalagi 2 keadaan (dari pembebasan Makkah hingga daerah Hunain) yang akhirnya nabi Muhammad SAW pulang ke Madinah usai Umroh saat itu juga, umroh setelah umroh qodho (akibat perjanjian Hudaibiyah tentunya).


Allohu A'lam

0 comments: